EnglishFrenchGermanItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

“Gula Tebu Krayan"

Ibu-ibu PKK tergabung dalam kelompok tani di Long Umung memproduksi gula tebu secara sederhana. Kebanyakan warga Krayan menggunakan gula tebu ini untuk dicampurkan sebagai pemanis minuman dan juga campuran untuk membuat kue.

“Kerbau Berkubang"

Kerbau merupakan salah satu jenis ternak penting di Krayan, kegunaannya yang sangat beragam mulai dari pengangkut kayu bakar dari hutan, transportasi, sebagai bahan pangan sampai pelengkap kegiatan seremonial adat maupun keagamaan.

“Sumber Daya alam Long Umung"

Long Umung kaya akan keragaman hayati, udara bersih dan segar serta tanah yang subur, sungai mengalir melintasi desa, dikelilingi pengunungan / bukit, air terjun dan sumbermata air bersih dan hutan. Produk khas dari desa ini adalah garam gunung, obat herbal dan padi adan yang di sukai oleh negara tetangga.

“Perkebunan Nanas"

Long Umung salah satu Lumbung Pangan di Krayan dikenal sebagai penghasil sayur dan buah-buahan lokal untuk kebutuhan sendiri dan dijual keluar desa. Long Umung memiliki tanah yang subur dan mudah ditanami sayur sayuran serta buah buahan lokal seperti perkebunan nanas, tebu, pisang dan manggis.

“Lokasi Long Umung"

adalah salah satu kawasan di Kec. Krayan Timur, Kab. Nunukan, Kalimantan Utara. Daerah ini terletak di perbatasan Indonesia - Malaysia. Disebut Lokasi Lung Umung karena  terdapat 7 desa lainnya bersama desa Long Umung yang merupakan desa berkembang.

Latar Belakang

Borneo adalah pulau ketiga terbesar di dunia yang sangat terkenal dengan kekayaan alamnya seperti hutan, batubara, emas dan minyak. Mario Rautner (2005) dalam laporannya mengenai status hutan, kehidupan alam liar di Borneo dan ancaman terhadapnya mengatakan bahwa Borneo adalah a land of plenty atau tanah yang memiliki banyak hal, atau dengan kata lain, tanah yang kaya. Ancaman yang dimaksud oleh Rautner salah satunya adalah hilangnya keanekaragaman hayati di pulau ini dari tahun ke tahun. World Wide Fund for Nature (WWF) melaporkan bahwa 56% atau kurang lebih 29,000 kilometer dari hutan yang dilindungi di Kalimantan telah ditebang untuk perkebunan kelapa sawit dan konversi lahan (Rautner, 2005). Untuk menjaga Pulau Borneo dan memastikan bahwa pengelolaan pulau ini dapat dilakukan secara efektif, maka pada tahun 2007 tiga negara yang memiliki wilayah di pulau Borneo yaitu Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia menandatangani kesepakatan untuk melakukan kegiatan positif untuk menjaga Pulau Borneo yang bernama Heart of Borneo (HoB).  

Tahun 2008 WWF menindaklanjuti kesepakatan tersebut melalui pengembangan program Education for Sustainable Development (ESD) atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (PPB) dengan melakukan pelatihan dan pendampingan sekolah-sekolah yang berada di 13 kabupaten yang berada di areal HoB yaitu: Provinsi Kalimantan Tengah (Katingan, Murung Raya, Gunung Mas, Pulang Pisau dan Barito Utara), Provinsi Kalimantan Timur (Kutai Barat, Mahakam Ulu), Provinsi Kalimatan Barat (Sintang, Melawi, Kapuas Hulu, Ketapang), Provinsi Kalimatan Utara (Nunukan dan Malinau). Di setiap kabupaten dibangun sekolah percontohan dengan tujuan untuk menjadikan sekolah dampingan WWF Indonesia sebagai pusat pembelajaran komunitas sekitar dan sekolah lainnya dengan menanamkan nilai-nilai ESD sebagai bagian dari penyelamatan kekayaan alam nasional.

Ada 43 sekolah yang berada di bawah pendampingan WWF-Indonesia. Sekolah-sekolah dampingan tersebut telah menerima pendampingan dalam bentuk pelatihan untuk peningkatan kualitas sekolah, dan nilai-nilai Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan. Program pendampingan ESD di HoB dilakukan melalui penerapan The Whole School Approach (Pendekatan Sekolah secara Menyeluruh). Pendekatan The Whole School Approach yang dimaksud disini meliputi: Pengajaran dan Pembelajaran, Budaya dan Etos sekolah, Murid, Masyarakat, Lingkungan Sekolah, Monitoring dan Evaluasi.