EnglishFrenchGermanItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

“Gula Tebu Krayan"

Ibu-ibu PKK tergabung dalam kelompok tani di Long Umung memproduksi gula tebu secara sederhana. Kebanyakan warga Krayan menggunakan gula tebu ini untuk dicampurkan sebagai pemanis minuman dan juga campuran untuk membuat kue.

“Kerbau Berkubang"

Kerbau merupakan salah satu jenis ternak penting di Krayan, kegunaannya yang sangat beragam mulai dari pengangkut kayu bakar dari hutan, transportasi, sebagai bahan pangan sampai pelengkap kegiatan seremonial adat maupun keagamaan.

“Sumber Daya alam Long Umung"

Long Umung kaya akan keragaman hayati, udara bersih dan segar serta tanah yang subur, sungai mengalir melintasi desa, dikelilingi pengunungan / bukit, air terjun dan sumbermata air bersih dan hutan. Produk khas dari desa ini adalah garam gunung, obat herbal dan padi adan yang di sukai oleh negara tetangga.

“Perkebunan Nanas"

Long Umung salah satu Lumbung Pangan di Krayan dikenal sebagai penghasil sayur dan buah-buahan lokal untuk kebutuhan sendiri dan dijual keluar desa. Long Umung memiliki tanah yang subur dan mudah ditanami sayur sayuran serta buah buahan lokal seperti perkebunan nanas, tebu, pisang dan manggis.

“Lokasi Long Umung"

adalah salah satu kawasan di Kec. Krayan Timur, Kab. Nunukan, Kalimantan Utara. Daerah ini terletak di perbatasan Indonesia - Malaysia. Disebut Lokasi Lung Umung karena  terdapat 7 desa lainnya bersama desa Long Umung yang merupakan desa berkembang.

Cakrawala Borneo, Memotret Kehidupan Warga Desa

7 Januari 2020, Oleh Bambang Parlupi

Pada tanggal 3-6 oktober 2019 yang lalu, telah dilaksanakan program Cakrawala Borneo yaitu pelatihan pembuatan dokumentasi foto. Kegiatan ini dilakukan di sekitar SDN Tahai Baru 2, Kec. Maliku, Kab. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, yang diikuti oleh perwakilan guru dan siswa. Adapun bentuk kegiatan meliputi pelatihan pembuatan dokumentasi foto (Foto bercerita/essay photo), yang meliputi materi pengenalan tentang kamera digital, tekhnik pengambilan gambar secara macro, potraite dan landscape dengan objek benda, hewan, manusia serta tumbuhan juga tekhnik pengambilan gambar untuk bentang alam (Landscape). Ditambah pula dengan pengenalan tentang dokumentasi sederhana dan menarik yang terkonsep dalam bentuk pembuatan foto bercerita.

Dalam pelatihan itu diberikan juga tentang tata cara membuat materi presentasi dalam bentuk foto yang menarik. Ditambah pula tentang pengajaran bagaimana membuat tulisan singkat dalam bentuk artikel sederhana atau berita singkat yang didukung oleh konsep foto yang baik. Hal tersebut akan berguna untuk berbagai kegiatan publikasi dan dokumentasi sekolah seperti pembuatan laporan, presentasi, pembuatan majalah sekolah (Mading/majalah dinding), poster kegiatan dan lain-lain. Sebagai bahan praktek, sejumlah kamera saku digital (Pocket digital camera), serta gawai Android Camera disediakan pihak penyelenggara.

Materi akan disampaikan dalam bentuk pelajaran teori dan praktek lapangan yang dilakukan di dalam maupun di ruang kelas. Selain itu peserta akan diberikan tugas rutin selama pelatihan dan tugas panjang untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat sehari-hari di sekitar desa, termasuk juga mendokumentasikan fenomena alam yang ada (ekosistem setempat) serta kegiatan budaya masyarakat lokal, serta kegiatan sekolah dalam proses belajar mengajar.

Kegiatan tersebut difasilitasi oleh YSAD (Bambang Parlupi dan Roy Candra Yudha) dengan peserta 20 orang siswa dari SDN Tahai Baru 2, 2 orang Perwakilan dari SDN Tahai Jaya 2 orang Perwakilan dari SDN Tahai Baru 1. Pada hari pertama kegiatan cakrawala Borneo atau pelatihan pembuatan dokumentasi foto (Foto bercerita/essay photo), dikenalkan teori serta praktek tentang pengenalan kamera digital, tekhnik pengambilan gambar secara macro, potraite dan landscape dengan objek benda, hewan, manusia serta tumbuhan juga tekhnik pengambilan gambar untuk bentang alam (Landscape).

“Materi yang diajarkan juga dalam bentuk teori dan praktek pengenalan tentang dokumentasi sederhana dan menarik yang terkonsep dalam bentuk pembuatan foto bercerita atau essay foto. Hunting foto atau berburu objek foto dilakukan di sekitar sekolah yang kemudian hasilnya dipresentasikan dan didiskusikan dengan fasilitator “, demikian penjelasan Roy CY, fasilitator dari YSAD.

Pada hari kedua kegiatan cakrawala Borneo atau pelatihan pembuatan dokumentasi foto (Foto bercerita/essay photo, membahas tentang hasil objek foto yang didapat sebelumnya. Hasilnya kemudian dipresentasikan dan didiskusikan dengan fasilitator, tentang layak tidaknya gambar yang dihasilkan untuk dipublikasikan. Materi disampaikan dalam bentuk pelajaran teori (30%) dan praktek lapangan (70%) yang dilakukan di dalam maupun di ruang kelas. “Selain itu peserta akan diberikan tugas rutin selama pelatihan dan tugas panjang untuk mendokumentasikan kehidupan masyarakat sehari-hari di sekitar desa, termasuk juga mendokumentasikan fenomena alam yang ada (ekosistem setempat) serta kegiatan budaya masyarakat lokal, serta kegiatan sekolah dalam proses belajar mengajar“, ujar Roy.

Dalam pelatihan itu diberikan juga tentang tata cara membuat materi presentasi dalam bentuk foto yang menarik. Ditambah pula tentang pengajaran bagaimana membuat tulisan singkat dalam bentuk artikel sederhana atau berita singkat yang didukung oleh konsep foto yang baik. Hal tersebut akan berguna untuk berbagai kegiatan publikasi dan dokumentasi sekolah seperti pembuatan laporan, presentasi, pembuatan majalah sekolah (Mading/majalah dinding), poster kegiatan dan lain-lain.

Ada ratusan gambar yang dihasilkan dari puluhan perserta itu. Berbagai macam tema seputar kehidupan di desa terdokumentasikan dengan baik. Hasil karya para peserta akan dibukukan dalam bentuk katalog foto Cakrawala Borneo. Selain itu, seluruh hasil karya peserta yang terpilih dengan baik akan di publikasikan di situs www.pustakaborneo.org. (BParlupi/2019)