EnglishFrenchGermanItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

“Belalang Ranting Berduri"

Aneka serangga liar ditemukan di sekitar Desa Setulang yang dikelilingi deretan bukit hijau berhutan tropis khas Kalimantan Utara. Keberadaan serangga di alam liar merupakan bagian penting dari khazanah keanekaragaman hayati di sekitar desa.

“Cakrawala Borneo 2019"

Siswa SDN Tahai Baru 2 sedang asyik membidik apa saja yang berada di kebun sekolahnya dalam Pelatihan pembuatan dokumentasi foto dengan materi pengenalan fotografi sederhana dan menarik dalam bentuk pembuatan foto bercerita.

“Sisa Kebakaran Kebun"

Kebun milik warga Desa Tahai tidak luput dari terjangan kebakaran lahan pada bulan Oktober 2019 lalu. Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah terjadi hampir sepanjang tahun akibat faktor manusia dan faktor alam.

(Foto: Satria Bintang P. - Pelajar SDN Tahai Baru 2)

“Memetik Salak di Kebun Sekolah"

Siswa SDN Tahai Baru 2 sedang memetik buah salak yang tumbuh di belakang sekolah. Ada puluhan batang tanaman salak tumbuh subur di sekitar sekolah yang buahnya terasa manis.

(Foto: Anton Febriyanto - Pelajar SDN Tahai Baru 2)

“Pengenalan Tumbuhan Obat"

Siswa SDN 002 Malinau Selatan Hilir, Malinau, Kalimantan Utara, memperhatikan gurunya bagaimana mengenali tumbuhan obat di hutan sekolah yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat Suku Dayak Kenyah Oma Lung.

Hutan Alami dan Budaya Masyarakat Adat Sebaju sebagai Modal Menuju Desa Wisata

7 Januari 2020, Oleh Bambang Parlupi

Rasau Sebaju, demikian masyarakat Kabupaten Melawi menyebutnya, adalah kawasan hutan adat yang berada di wilayah administrasi Dusun Sebaju Desa Nanga Kebebu, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat. Arealnya masih alami yang didominasi oleh ekosistem hutan rawa gambut dengan luas 200,912 hektar. Hutan, kebun dan kawasan pemukiman oleh masyarakat setempat dibagi dalam empat kawasan zonasi. Zonasi Lindung yang merupakan areal hutan alami tercatata ada 54, 234 hektar. Sedangkan pada Zona Pemanfaatan meliputi wilayah seluas 90,831 hektar dan Zona Penanaman seluas 25,690 hektar. Sedangkan sisanya masuk ke dalam daerah Zona Tradisional, Zona Tradisional merupakan zona terkait aktivitas masa lalu masyarakat Sebaju.

Istilah Rasau, menurut masyarakat setempat yaitu kawasan hutan dataran rendah yang sering tergenang air. Wilayah itu merupakan tempat hidup nenek moyang warga Sebaju. Berbagai keseharian masyarakat dulu menjadi kisah yang sakral bagi masyarakat yang masih dihormati hingga saat ini. Aktifitas tersebut menandakan bahwa ada penghargaan yang luar biasa oleh masyarakat Sebaju saat ini kepada adat istiadat dan perilaku hidup para leluhur.

Tipe ekosistem kawasan Rasau Sebaju berada diantara daerah aliran Sungai Sebaju dan Sungai Kebebu menjadikan Rasau Sebaju sebagai salah satu sumber air kedua sungai tersebut. Menjadi sumber air bagi segala kehidupan yang ada di Rasau Sebaju, baik flora maupun fauna. Sama halnya dengan flora, fauna yang mendiami kawasan hutan Rasau Sebaju berupa hewan yang hidup di kawasan hutan rawa gambut Kalimantan Barat. Berbagai jenis burung atau unggas ada di Rasau Sebaju seperti Murai Batu (Copsychus malabaricus), Kacer (Copsychus Saularis), dan lain-lain. Jenis ikan diantaranya Arwana Hijau/ Kuning (Scleropages sp), Toman (Channa micropeltes), Lais (Cyptopterus sp), dan lain-lain. Ikan arwana hijau atau kuning masih banyak di daerah Sungai Sebaju yang menjadi bagian dari Rasau Sebaju.

Hewan hutan lainnya seperti Pelanduk (Tragulus kanchil), Kijang (Muntiacus muntjak), dan lain-lain. Hewan yang hidup di pohon juga ditemukan di Rasau Sebaju seperti Trenggiling (Manis javanica), Kukang (Nycticebus coucang), Kelempiau (Hylobates muelleri), dan lain-lain. Jenis ular diantaranya sawak (Python sp) dan lain-lain.

Tumbuhan yang ada di kawasan ini berupa tumbuhan rawa gambut dataran rendah. Sehingga di kawasan ini banyak sekali ditemukan berbagai jenis tanaman obat-obatan, tanaman hias, tanaman bahan bumbu dapur, tanaman bahan baku produk olahan, tanaman bahan kerajinan tangan dan kayu. Kayu yang masih sering ditemukan berupa Jelutung (Dyera costulata), Ramin (Gonystylus bancanus), Meranti (Shorea sp), dan lain-lain. Hampir semua kayu dimanfaatkan oleh masyarakat. Tetapi khusus populasi Jelutung sangat banyak di Hutan Rasau Sebaju karena memang kondisi hutannya cocok untuk tumbuhan ini. Di Rasau Sebaju juga ada berbagai jenis tanaman tanaman bahan produk olahan seperti Asam Gandis (Garcinia xanthochymus), Tengkawang (Shorea macrophylla), dan lain-lain.

Tumbuhan jenis Tengkawang di daerah ini tumbuh tepat di pinggir Rasau Sebaju. Tanaman ini sengaja ditanam oleh warga Sebaju. Umur tanaman paling tua sekitar 20 tahun lebih Di hutan Rasau Sebaju ada juga ditemukan berbagai jenis tanaman obat-obatan seperti Sarang Semut (Myrmecodia tuberosa), Pasak Bumi (Eurycoma longifolia), dan lain-lain. Sarang semut sendiri sangat mudah ditemukan di kawasan hutan ini. Begitu pula dengan tanaman hias bisa ditemukan seperti Kantung Semar (Nepenthes sp), Anggrek (Orchidaceae) dan berbagai jenis Keladi Hias (Caladium sp). Selain itu banyak ditemukan pula aneka jenis Rotan (Calamus sp), dan berbagai jenis pandan (Pandanus sp) pandan atau kajang serta rotan dimanfaatkan oleh masyarakat Sebaju untuk kerajinan tangan seperti tikar, caping, bakul dan peralatan rumah tangga lainnya.

Hukum Adat

Dalam upaya mengelola hutan Rasau Sebaju diperkuat dengan aturan adat yang diadopsi dari adat istiadat, masyarakat lokal yang mendiamai kawasan, Suku Katab Kebahan. Hukum-hukum adat tersebut menjadi bagian yang penting dalam kehidupan warga Dusun Sebaju. Peristiwa yang dialami oleh nenek moyang masyarakat Sebaju terkait dengan sebuah lokasi atau tempat. Hal tersebut dijadikan sebgai tempat yang sakral dan dihormati bagi masyarakat Suku Katab Kebahan hingga saat ini.

Misalnya ada sebuah peristiwa sebuah tempat yang seperti kolam alam berukuran kecil (Labang), Laman (rumah panjang khas Katab Kebahan). Begitu pula Mungguk (area yang lebih tinggi dari kawasan sekitarnya) Pinang, Rasau Labang Lancong dan Rasau Melayang, semua tempat tersebuat ada kisahnya tersendiri.

Bahkan, aturan adat dan kearifan lokal ini telah dijadikan peraturan lembaga adat seperti Peraturan Lembaga Pasak Sebaju Nomor 01 Tahun 2015 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Rasau Sebaju. Ada beberapa peraturan adat Sebaju diantaranya adalah, Langkah Lalu, yaitu suatu perlakuan kepada orang pendatang yang masuk ke Rasau Sebaju tanpa sepengetahuan Lembaga Pasak Sebaju. JIka ini terjadi maka orang tersebut akan dikenakan hukum adat Langkah Lalu. Hukumannya membayar 40-60 real dengan satu real sama dengan 1 gram emas.

Ada pula yang dikenal dengan istilah Gunung Timbul (ganti rugi). Tak jarang ada binatang ternak berkeliaran masuk kawasan Hutan Rasau Sebaju dan menyebabkan kerusakan tanaman di kawasan Hutan Rasau Sebaju. Pemilik kawanan ternak bisa dituntut membayar adat Gunung Timbul sebanyak 2 real sampai 10 real. Besar, kecilnya pembayaran tergantung atas kebijaksa-naan pengurus Rasau Sebaju. Kalau ladang sampai kemasukan binatang babi, maka hewan tersebut harus dibunuh dan ganti rugi diberikan sesuai kerugian dan kesepakatan.

Aturan adat lain yang diterapkan di masyarakat adalah, Pemali Kubur. Apabila kawasan kuburan dirusak, yang dilakukan sengaja maupun tidak sengaja, orang yang melakukannya akan dikenakan hukum adat Pemali Kubur sebesar 20 - 40 real. Di Rasau Sebaju sendiri ada kuburan dan beberapa kawasan yang dianggap keramat oleh warga seperti di Laman Klansau, Labang Tihang, Rasau Melayang, Labang Lancong, Mungguk Pinang dan Labang Buhin. Nah, apabila ada orang merusaknya maka aka dikenakan adat Pemali Kubur. Begitupula dengan atuaran berladang di dekat kuburan yang disebut Panang Jolas. Orang yang melanggarnya akan dikenakan sanksi 80 real. Tidak hanya itu, jika lahan kuburan dijadikan ladang maka akan ditambahkan ganti rugi kubur. Jika berladang di Tembawang yang ada kubur maka akan dikenakan adat Panang Jolas, dan jika berladang di kawasan yang ada sandung-nya maka akan dikenakan biaya pembuatan sandung tersebut. Kawasan keramat seperti Laman Klansau, Labang Tihang, Rasau Melayang, Labang Lancong, Mungguk Pinang dan Labang Buhin berada dalam Rasau Sebaju yang letaknya berbentuk cincin mengelilingi pinggir Rasau Sebaju. Ini berarti, Rasau Sebaju tidak lagi bisa digunakan untuk berladang. Bila ingin membuka ladang harus membayar 80 real.

Ada juga larangan melewati Kawasan Hutan Rasau Sebaju bagi seseorang pada lahan bercocok tanam. Terutama bila tanaman sudah tumbuh subur dan menghijau. Jika seseorang membawa barang-barang seperti beriut (anyaman dari Rotan) secara sengaja maupun tidak sengaja dikena-kan hukum adat 2 real. Bagi warga Rasau Sebaju, hal tersebut disebut Pemali. Aturan adat yang lain seperti Pemali Nubak Sungai juga diterapkan dengan tegas.Ini adalah larangan untuk masyarakat melakukan aktivitas menuba atau meracun ikan di sungai di kawasan Rasau Sebaju dan hulu Rasau Sebaju. Denda adat ini termasuk juga dalam aktifitas pembakaran huma atau ladang. Pada saat membakar huma atau ladang diwajibkan untuk melakukan sejumlah ketentuan. Misalnya, mewajibkan bagi siapa saja sebelum ladang dibakar agar memberitahukan kepada keluarga atau tetangga yang memiliki kebun, tanaman dan lain sebagainya.

Pengembangan Desa Wisata

Pemukiman warga Sebaju juga tergantung pada keberadaan ekosistem hutan. Kawasan hutan alam berfungsi sebagai pengikat air Rasau Sebaju dan sangat penting untuk menahan banjir. Rasau Sebaju bisa saja menjadi sumber penghidupan, bila kekayaan yang ada di dalamnya dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Sebaliknya, bila kondisi Rasau Sebaju rusak akan berimbas pada kehidupan masyarakat Sebaju.

Masyarakat lokal terus berupaya agar Rasau Sebaju tetap hidup. Salah satu caranya yakni dengan menegakkan hukum adat dan kearifan untuk menjaga kawasan Rasau Sebaju. Bila adat telah dimiliki, tinggal bagaimana adat tersebut dipahami secara bersama-sama dan dipatuhi secara sadar serta bersama-sama pula. Demikian pula dengan kearifan, dengan berbagai makna dan filosofisnya juga harus mampu mengikat semua orang.

Dengan potensi tersebuat, para pemangku kebijakan desa, lembaga adat serta didukung dengan sejumlah lembaga mitra pendamping desa berupaya untuk mengembangkan potensi desa melalui pengembangan desa wisata. Selain sebagai upaya pelastaraian adat istiadat leluhur serta upaya penyelamatan alam, hal tersebut dapat menjadi sumber penghasilan ekonomi desa. Potensi desa dalam hal kebudayaan, perilaku sehari-hari serta sajian hutan yang masih alami menjadi bagian yang menarik dalam pengembangan destinasi wisata di kawasan Kab. Melawi.

Dalam buku Pedoman Sadar Wisata terbitan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2017, terjabarkan bahawa peningkatan peran masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan memerlukan berbagai upaya pemberdayaan (empowerment), agar masyarakat dapat berperan lebih aktif dan optimal serta sekaligus menerima manfaat positif dari kegiatan pembangunan yang dilaksanakan untuk peningkatan kesejahteraannya. Pemberdayaan Masyarakat dalam konteks pembangunan kepariwisataan dapat didefinisikan sebagai upaya penguatan dan peningkatan kapasitas, peran dan inisiatif masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan, untuk dapat berpartisipasi dan berperan aktif sebagai subjek atau pelaku maupun sebagai penerima manfaat dalam pengembangan kepariwisataan secara berkelanjutan”. (Renstra Dit. Pemberdayaan Masyarakat,2010)

Definisi tersebut menegaskan posisi penting masyarakat dalam kegiatan pembangunan, yaitu masyarakat sebagai subjek atau pelaku pembangunan; dan masyarakat sebagai penerima manfaat pembangunan. Masyarakat sebagai subyek atau pelaku pembangunan,mengandung arti, bahwa masyarakat menjadi pelaku penting yang harus terlibat secara aktif dalam proses perencanaan dan pengembangan kepariwisataan, bersama-sama dengan pemangku kepentingan terkait lainnya baik dari pemerintah maupun swasta. Dalam fungsinya sebagai subjek atau pelaku masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab untuk bersama-sama mendorong keberhasilan pengembangan kepariwisataan di wilayahnya. 

Masyarakat sebagai penerima manfaat, mengandung arti, bahwa masyarakat diharapkan dapat memperoleh nilai manfaat ekonomi yang berarti dari pengembangan kegiatan kepariwisataan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial masyarakat yang bersangkutan. Dalam kerangka pembangunan kepariwisataan tersebut, salah satu aspek mendasar bagi keberhasilan pembangunan kepariwisataan adalah dapat diciptakannya lingkungan dan suasana kondusif yang mendorong tumbuh dan berkembangnya kegiatan kepariwisataan di suatu tempat. Iklim atau lingkungan kondusif tersebut terutama dikaitkan dengan perwujudan Sadar Wisata dan Sapta Pesona yang dikembangkan secara konsisten di kalangan masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi pariwisata. (BParlupi/2019)