EnglishFrenchGermanItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

“Gula Tebu Krayan"

Ibu-ibu PKK tergabung dalam kelompok tani di Long Umung memproduksi gula tebu secara sederhana. Kebanyakan warga Krayan menggunakan gula tebu ini untuk dicampurkan sebagai pemanis minuman dan juga campuran untuk membuat kue.

“Kerbau Berkubang"

Kerbau merupakan salah satu jenis ternak penting di Krayan, kegunaannya yang sangat beragam mulai dari pengangkut kayu bakar dari hutan, transportasi, sebagai bahan pangan sampai pelengkap kegiatan seremonial adat maupun keagamaan.

“Sumber Daya alam Long Umung"

Long Umung kaya akan keragaman hayati, udara bersih dan segar serta tanah yang subur, sungai mengalir melintasi desa, dikelilingi pengunungan / bukit, air terjun dan sumbermata air bersih dan hutan. Produk khas dari desa ini adalah garam gunung, obat herbal dan padi adan yang di sukai oleh negara tetangga.

“Perkebunan Nanas"

Long Umung salah satu Lumbung Pangan di Krayan dikenal sebagai penghasil sayur dan buah-buahan lokal untuk kebutuhan sendiri dan dijual keluar desa. Long Umung memiliki tanah yang subur dan mudah ditanami sayur sayuran serta buah buahan lokal seperti perkebunan nanas, tebu, pisang dan manggis.

“Lokasi Long Umung"

adalah salah satu kawasan di Kec. Krayan Timur, Kab. Nunukan, Kalimantan Utara. Daerah ini terletak di perbatasan Indonesia - Malaysia. Disebut Lokasi Lung Umung karena  terdapat 7 desa lainnya bersama desa Long Umung yang merupakan desa berkembang.

Sejarah ESD di Indonesia

Di Indonesia, Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) mulai bergaung secara resmi di tingkat nasional sekitar tahun 1987. Pada saat itu, PLH dilaksanakan di sekolah dalam materi pembelajaran PKLH (Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup). Dalam berjalannya waktu, materi pembelajaran ini pun tidak ada lagi di dalam kurikulum.

Pada saat PLH digaungkan lagi oleh beberapa LSM di beberapa daerah sekitar tahun 1990, pihak sekolah maupun pihak pemerintahan mengingat kembali program PKLH tersebut. PLH berdinamika di luar jalur kurikulum pendidikan di sekolah. Sekolah berkegiatan PLH dengan LSM baik di ekstra kurikuler maupun kegiatan lapangan sebagai pelengkap proses belajar mengajar di sekolah, serta berkembang kegiatan pelatihan dan lokakarya untuk guru baik bersifat lokal maupun nasional. 

Kegiatan guru terkait PLH sebagian besar atau bahkan semuanya dikelola oleh LSM, karena PLH masih belum cukup dikenal di pemerintahan baik dari pusat hingga daerah. Sementara itu, kelompok-kelompok siswa berkegiatan terkait pendidikan lingkungan menjamur dan didampingi oleh LSM. Beberapa kegiatan antara lain pemantauan sungai, pengelolaan lahan kosong, beragam penelitian sederhana tingkat siswa. Beberapa proyek siswa diangkat hingga tingkat internasional. Kegiatan guru terkait PLH sebagian besar atau bahkan semuanya dikelola oleh LSM, karena PLH masih belum cukup dikenal di pemerintahan baik dari pusat hingga daerah. Sementara itu, kelompok-kelompok siswa berkegiatan terkait pendidikan lingkungan menjamur dan didampingi oleh LSM. Beberapa kegiatan antara lain pemantauan sungai, pengelolaan lahan kosong, beragam penelitian sederhana tingkat siswa. Beberapa proyek siswa diangkat hingga tingkat internasional. Dinamika PLH semakin tinggi pada saat dibentuknya Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) pada November 1997 (pertemuan di Situ Gunung, Jawa Barat), dengan LSM sebagai inisiator utama. Pembentukan jaringan itu disebabkan pemahaman adanya kebutuhan yang berbeda-beda di antara masing-masing pelaku PLH. Perbedaan kebutuhan itu terkait luasnya dan beragamnya masyarakat Indonesia. Perkembangan masyarakat di setiap memiliki berbagai perbedaan. Sementara,infrastruktur tiap daerah pun jauh berbeda.  

Pergerakan yang didorongkan oleh JPL berbuahkan konsep Sekolah Berwawasan Lingkungan (SBL) yang kemudian dipayungi oleh KLH sejak tahun 2006 dan berkembang hingga sekarang sebagai program nasional resmi dari pemerintah. Program tersebut memilih sejumlah sekolah di berbagai penjuru tanah air untuk dijadikan percontohan dan mendapat predikat/penghargaan “Sekolah Adiwiyata”.

Terlepas pemahaman dan penerapan PLH yang beragam di berbagai wilayah pada program Adiwiyata tersebut, program tersebut membuat PLH menjadi suatu yang menarik dan dicari oleh sekolah. Program ini pula yang membuat harmonis hubungan antara LSM dan Pemerintah di pusat sampai di tingkat daerah, dan mendorong kerjasama antar instansi pemerintahan terkait di daerah. Pada saat di Indonesia PLH menjadi favorit, sebenarnya di tingkat internasional PPB sudah terimplementasi di sekolah beberapa negara sejak akhir tahun 1990-an. Walaupun telah tercanangkan Dekade PPB di tahun 2005, bahkan pemerintah membuat MoU di tahun 2005 dan diperbaharui di tahun 2010, PPB belum juga dikenal secara umum di Indonesia. Hanya beberapa LSM, yang kemudian bergerak bersifat lokal untuk menerapkan PPB dalam berbagai bentuk berdasarkan prinsip utama PPB. Namun, integrasi atau saling keterkaitan sebagai prinsip utama PPB menjadi tantangan besar karena proses integrasi masih merupakan hal yang jarang sekali dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Akibatnya, penerapan PPB masih memerlukan waktu lebih. (Sumber: Menyongsong akhir Decade of ESD (2005 – 2014) Perjalanan Education for Sustainable Development di Indonesia dalam Perspektif LSM)