EnglishFrenchGermanItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

“Gula Tebu Krayan"

Ibu-ibu PKK tergabung dalam kelompok tani di Long Umung memproduksi gula tebu secara sederhana. Kebanyakan warga Krayan menggunakan gula tebu ini untuk dicampurkan sebagai pemanis minuman dan juga campuran untuk membuat kue.

“Kerbau Berkubang"

Kerbau merupakan salah satu jenis ternak penting di Krayan, kegunaannya yang sangat beragam mulai dari pengangkut kayu bakar dari hutan, transportasi, sebagai bahan pangan sampai pelengkap kegiatan seremonial adat maupun keagamaan.

“Sumber Daya alam Long Umung"

Long Umung kaya akan keragaman hayati, udara bersih dan segar serta tanah yang subur, sungai mengalir melintasi desa, dikelilingi pengunungan / bukit, air terjun dan sumbermata air bersih dan hutan. Produk khas dari desa ini adalah garam gunung, obat herbal dan padi adan yang di sukai oleh negara tetangga.

“Perkebunan Nanas"

Long Umung salah satu Lumbung Pangan di Krayan dikenal sebagai penghasil sayur dan buah-buahan lokal untuk kebutuhan sendiri dan dijual keluar desa. Long Umung memiliki tanah yang subur dan mudah ditanami sayur sayuran serta buah buahan lokal seperti perkebunan nanas, tebu, pisang dan manggis.

“Lokasi Long Umung"

adalah salah satu kawasan di Kec. Krayan Timur, Kab. Nunukan, Kalimantan Utara. Daerah ini terletak di perbatasan Indonesia - Malaysia. Disebut Lokasi Lung Umung karena  terdapat 7 desa lainnya bersama desa Long Umung yang merupakan desa berkembang.

Dayak Lundayeh, Penduduk Asli Dataran Tinggi Krayan

31 Juli 2021, Bambang Parlupi

C pemeluk animisme.

Suku Dayak Lundayeh adalah suatu suku yang tinggal di daerah dataran tinggi diperbatasan timur indonesia tepatnya kawasan pegunungan Apo Duat yang dingin pada ketinggian 1.000-2.000 meter di atas permukaan laut (Kalimantan Timur) dengan penduduk diperkirakan sekitar 24.000 jiwa. Suku ini ditemui di sekitar Bahau dan Mentarang, Kemaloh, Paya dan Sungai Sesayap, Krayan, Nunukan hingga Malinau. Sementara di Sabah, Malaysia, terdapat di kawasan Ulu Padas dan Mengalong. Di wilayah Brunei komunitas ini ditemukan pada kawasan Temburong dan Pandaruan (Balang and Harrisson,1949; Harrisson 1959; Le Bar 1972).

Menurut legenda bahwa nenek moyang dayak Lundayeh berasal dari daratan Cina yang berimigrasi ke bumi Borneo berabad-abad yang lalu. Hal ini dapat dibuktikan dengan benda peninggalan budaya yang ada dalam masyarakat Dayak Lundayeh, seperti tabu’ (guci), rubi (tempayan), patung proslen, bau (manik) dari Cina dan felepet (pedang sejenis samurai). Sementara sejarawan barat bernama T.R. William (dlm. Mat Zin Mat Kib, 2003:25) berpendapat kira-kira 15,000 hingga 20,000 tahun yang lalu telah berlaku penghijrahan penduduk dari bagian selatan Negara China ke Asia Tenggara dan kawasan pesisirnya, termasuk ke wilayah Pulau Borneo.

Mereka diperkirakan berpindah dari benua Asia sejak 1,500 hingga 1,000 SM terdiri daripada kumpulan etnik yang pada hari ini disebut “Dusun” dan “Murut”. Berdasarkan fakta kelompok Dusun dan Murut dikatakan dua kelompok yang paling awal berada di Sabah. Kelompok ini secara umumnya disebut Melayu Proto (Bellwood 1985:103; Collins 1998:3-4). Tom Harrison (1959) dan S.Runciman (1960) juga mengesahkan bahwa etnis ini adalah yang terawal menetap di kawasan pergunungan di tengah Kepulauan Borneo. Jika demikian halnya, berdasarkan bukti-bukti sejarah, keberadaan Dayak Lundayeh dikaitkan dengan rumpun bangsa Austronesia dari cabang Nusantara yang telah bertapak di Kalimantan.

Nenek moyang Dayak Lundayeh masuk melalui Sungai Sesayap. Budaya mereka adalah nomaden atau hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah yang lain dengan cara mudik ke hulu sungai. Budaya berpindah-pindah tempat tinggal ini, dilakukan untuk menghindari dari kejaran musuh; dan untuk mencari lahan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ada beberapa tempat yang diperkirakan pernah menjadi daerah hunian nenek moyang Dayak Lundayeh, yaitu di daerah Seputuk dan Kebiran. Di dua daerah ini ditemukan kuburan tua dan batang ulin bekas dipotong-potong manusia lama. Oleh karenanya ada yang menyebut bahwa orang Mentarang adalah suku Putuk.

Sumpah tulang badi’ adalah salah satu legenda masyarakat yang menceritakan bahwa jaman dahulu ada dua bersaudara laki-laki dan perempuan yang hidup di Malinau. Demi keamanan dari kejaran musuh, si kakak meminta adik perempuannya mudik ke hulu sungai dan si kakak tetap tinggal di Malinau. Sang kakak bersumpah demi tulang badi’ (seperti sumpah Palapa dari Mahapati Gajah Mada): “Bahwa tidak akan ada yang boleh masuk ke hulu sungai ini untuk mengganggu hidup adik perempuanku dan sungai Sembuak inilah batasnya”. Sejak saat itu sang adik perempuan mudik ke hulu sungai dan beranak-pinak di sana.  Sedangkan si kakak laki-laki tetap hidup dan beranak-pinak di Malinau. Sesuai dengan sumpahnya, sang kakak menjaga jangan sampai ada yang masuk ke hulu sungai untuk mengganggu adiknya. Sampai-sampai arus balik air-pasang sederas apapun dipercaya akan berhenti di muara sungai Sembuak. Legenda sumpah tulang badi’ inilah yang dipercaya menjadi cikal-bakal manusia dari suku Tidung di Malinau dari sang kakak laki-laki, dan suku Putuk atau Lundayeh dari sang adik perempuan di hulu sungai. 

Masuknya Agama Nasrani 

Sebelum agama Kristen masuk ke daerah Mentarang dan Krayan, masyarakat Dayak Lundayeh adalah pemeluk animisme. Mereka percaya pada kekuatan-kekuatan alam-gaib, seperti penyembahan terhadap roh-roh nenek moyang serta benda-benda keramat lainnya. Pada tahun 1932 seorang misionaris CMA (Christian Missionary Aliance) berkebangsaan Amerika bernama Rev. E.W. Presswood bersama isterinya Fiolla Presswood masuk ke wilayah masyarakat Dayak Lundayeh di Mentarang dan Krayan untuk menyebarkan agama Kristen. Pada awalnya masyarakat di Mentarang kurang menanggapi ajaran agama Nasrani, dan sulit untuk membuang kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar turun-temurun.  

Namun dengan tekun dan kesabaran yang tinggi, Presswood terus menyampaikan kabar penyelamatan manusia dari dosa dan mengadakan kebaktian-kebaktian rutin di dalam rumah-rumah penduduk di Mentarang hingga ke daerah Krayan. Pada tahun 1938 Ny. Fiola Presswod meninggal dunia di Long Berang. Oleh lembaga misi CMA, Presswood diberikan waktu cuti pulang ke USA untuk beristirahat dan menenangkan diri.

Sebagai ganti Presswood pada tahun 1939 dikirim, yaitu Rev. John Willfinger untuk melanjutkan misi penyebaran agama Kristen di daerah Mentarang dan Krayan. Pada saat pecah Perang Dunia II, tentara Jepang yang bermarkas di Tarakan datang ke Long Berang untuk menangkap John Willfinger karena dianggap sebagai bagian dari sekutu. Masyarakat Lundayeh pada waktu itu berusaha untuk menyembunyikan John Willfinger di desa-desa sekitar Long Berang, namun John Willfinger tidak ingin masyarakat Dayak Lundayeh dilibatkan dan menjadi sasaran pembunuhan tentara Jepang. Pada tahun 1942 John Willfinger ditangkap, menjadi tawanan Jepang dan dibawa ke Tarakan. 

Seiring berjalannya waktu, kepercayaan terhadap hal-hal gaib ditinggalkan, masyarakat Lundayeh berkembang dengan memeluk agama Kristen, yang mengenal adanya Tuhan. Tradisi yang berkaitan dengan animisme ditinggalkan karena bertentangan dengan agama. Dikisahkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) Yansen TP, kurang lebih 86 tahun mereka bak kehilangan sejarah. Kini mereka pelan-pelan mulai mengingat budaya-budaya dan tradisi yang sempat hilang tersebut.

Kata Yansen, di awal pasti ada yang berbeda pendapat dengan tujuannya. Seperti saat dia membangun ruma’ kadang atau rumah adat Lundayeh di Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Malinau. Menuai pro kontra namun dia tetap melanjutkan niat baik tersebut. “Sebab mereka berpendapat dengan menumbuhkan kembali tradisi, maka sama saja membawa mereka kembali ke dunia lama. Apa yang kami lakukan ini menginterpretasikan budaya Lundayeh yang sudah ada sejak dulu kala menjadi salah satu warna Indonesia,” ujarnya yang dilansir dari https://kaltara.prokal.co/read/news/20464-lundayeh-etnis-tertua-yang-sempat-hilang

Tak hanya dia, seorang yang gelisah akan semakin tergerusnya budaya Lundayeh ini adalah Ricky Yakub Ganang. Salah satu putra Dayak Lundayeh itu merasa khawatir semakin banyaknya orang-orang tua yang berpulang sebagai sumber utama, untuk bisa meneruskan tradisi-tradisi. Maka, ancaman akan hilangnya tradisi nenek moyang pun semakin nyata. 

Menurutnya, terjadi erosi besar dan terus-menerus terhadap nilai budaya, sebagai bagian dari dampak masuknya budaya asing di era milenial ini. Ditambah dengan rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari, juga melestarikan budaya Lundayeh. Akibatnya budaya trasional menghadapi degradasi nilai dan ancaman kepunahan. Butuh perubahan mendasar untuk menumbuhkan semangat dan minat dari generasi muda (anak adi) Dayak Lundayeh. Merekalah tumpuan utama dan harapan besar untuk keberlanjutan generasi dan kejayaan budaya leluhur. 

 “Jika sekiranya saya tidak rajin merekam dan menulis, semua tradisi lisan Dayak Lundayeh, maka tentu semua tradisi akan hilang. Seperti, adat isitiadat, nyanyian, mumuh, benging dan masih banyak lagi. Kekhawatiran itu bisa terjadi, karena saat ini semua informan (orang tua) yang asli satu per satu sudah meninggal dunia,” jelas Ricky Yakub, yang juga dia tuliskan di dalam Buku Dayak Lundayeh Idi Lun Bawang, Budaya Serumpun di Dataran Tinggi Borneo bersama Yansen TP. Keyakinan ini dipegang masyarakat Lundayeh, sebab masih ada dari mereka yang tetap familiar dan pernah mendengar penuturan langsung beberapa cerita atau dongeng serta berbagai, syair budaya dari sumber pertama yakni para orang tua.

“Rantai Penghubung” Alam dan Waktu 

Dalam budaya masyarakat tani primitif, ada hubungan yang sangat erat antara manusia dan alam yang saling berkaitan, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Pemahaman ini juga tidak terlepas dari budaya tani masyarakat Suku Dayak Lundayeh di Kecamatan Krayan. Petuah nenek moyang masyarakat Adat Dayak di Kalimantan mengatakan tanah merupakan milik mereka yang paling berharga. Antara masyarakat dengan tanah dan Dunia Alam Atas terdapat suatu hubungan yang amat erat. Tanah bagi Masyarakat adat dayak diyakini sebagai “Rantai Penghubung” antara generasi masyarakat nenek moyang di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Salah satu pesan penting peninggalan leluhur Lundayeh adalah Simpukng Ramuuq, yaitu kawasan hutan yang disediakan untuk mengambil hasil hutan yang diperlukan untuk keperluan kampung, dimana status penguasaan dan pemilikannya bersifat kolektif. Selain itu, juga dikenal sebuah proses dalam mengelolah lahan pertanian yang arif dan bijaksana. Sebelum benih padi disemaikan, sebelumnya benih tersebut dibawa ke gereja untuk diberkati. Tujuannya agar hasil panen dapat meningkat dan pertanaman aman dari gangguan hama atau penyakit tanaman. Acara pemberkatan benih ini disebut pade fra. Dalam proses perawatan padi sawah, seringkali terserang hama tikus, dalam hal ini dilakukan acara ngelabo labo atau gropyokan terhadap hama tikus. 

Saat ini memang banyak tradisi-tradisi yang tak banyak diketahui oleh generasi muda. Para orang tua memiliki tugas yang sangat penting, untuk tetap bisa menanamkan kembali budaya-budaya yang hampir punah tersebut.“ Para tetua adat dan orang tua selalu mengajarkan tradisi-tradisi dan berpesan agar selalu mempertahankan budaya dan adat Lundayeh,” kata Yahya S.Padan, warga Dayak Lundayeh yang bermukim di Pulau Sapi, Malinau. Saat ini banyak tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang hilang, sehingga sangat perlu diingatkan kepada para generasi muda. (Bambang Parlupi/Juli 2021/dikutip dari berbagai sumber)