EnglishFrenchGermanItalianJapaneseKoreanRussianSpanish

“Gula Tebu Krayan"

Ibu-ibu PKK tergabung dalam kelompok tani di Long Umung memproduksi gula tebu secara sederhana. Kebanyakan warga Krayan menggunakan gula tebu ini untuk dicampurkan sebagai pemanis minuman dan juga campuran untuk membuat kue.

“Kerbau Berkubang"

Kerbau merupakan salah satu jenis ternak penting di Krayan, kegunaannya yang sangat beragam mulai dari pengangkut kayu bakar dari hutan, transportasi, sebagai bahan pangan sampai pelengkap kegiatan seremonial adat maupun keagamaan.

“Sumber Daya alam Long Umung"

Long Umung kaya akan keragaman hayati, udara bersih dan segar serta tanah yang subur, sungai mengalir melintasi desa, dikelilingi pengunungan / bukit, air terjun dan sumbermata air bersih dan hutan. Produk khas dari desa ini adalah garam gunung, obat herbal dan padi adan yang di sukai oleh negara tetangga.

“Perkebunan Nanas"

Long Umung salah satu Lumbung Pangan di Krayan dikenal sebagai penghasil sayur dan buah-buahan lokal untuk kebutuhan sendiri dan dijual keluar desa. Long Umung memiliki tanah yang subur dan mudah ditanami sayur sayuran serta buah buahan lokal seperti perkebunan nanas, tebu, pisang dan manggis.

“Lokasi Long Umung"

adalah salah satu kawasan di Kec. Krayan Timur, Kab. Nunukan, Kalimantan Utara. Daerah ini terletak di perbatasan Indonesia - Malaysia. Disebut Lokasi Lung Umung karena  terdapat 7 desa lainnya bersama desa Long Umung yang merupakan desa berkembang.

Bersama FPB Membangun Sustainable Village Sebaju

30 Desember 2020, Oleh: Sukartaji, SUAR Institute

Sejak tahun 2011 WWF Indonesia membawa ide pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Melawi telah  mendorong sekolah berprestasi, terbentuknya Forum Pembangunan Berkelanjutan (FPB) dan kini mendorong Sustainable Village atau Kampung berkelanjutan di Dusun Sebaju, Desa Nanga Kebebu. 

WWF Indonesia menggandeng SuaR Intitute pada tahun 2011 melaksankan dua kali workshop Education Sustainable Development (ESD) atau Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan yang diikuti sekitar 35 sekolah di Kabupaten Melawi. Pasca workshop, diminta sekolah untuk mengajukan proposal siap untuk didampingi. Waktu itu, ada 5 sekolah yang mengajukan diri, namun diterima hanya tiga, yakni SMPN 1 Sayan, SMPN 7 Nanga Pinoh dan SMPN 2 Belimbing.  

Dari 3 sekolah tersebut, keseriusan ditunjukan SMPN 2 Belimbing yang ketika itu dipimpin H. Budiyanto, SPd, MM. Hasilnya, juara Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat kabupaten tahun 2015. dan mewakili Melawi di kancah provinsi dan nasional ajang serupa tahun 2016. Sekolah ini juga mendapat penghargaan Adiwiyata dari Gubernur Kalimantan Barat tahun 2016 dan mewakili Kalbar mengikuti adiwiyata Nasional di tahun 2017. Sekolah yang berada di Desa Bantu Nanta, Kecamatan Belimbing ini juga mendapatkan akreditasi sekolah dengan nilai A sampai Oktober 2020.

Imbas SMPN 2 Belimbing salah satunya SMPN 1 Pinoh Selatan. Sekolah ini mulai bersentuhan dengan program WWF Indonesia saat Workshop Pemuda dan Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan (Borneo Youth Programme)  tahun 2015 yang dilaksanakan di SMPN 2 Belimbing. Usai workshop masing-masing sekolah dan pemuda membuat project plan. SMPN 1 Pinoh selatan membuat project plan pembuatan tanaman dan kebun sekolah. 

Sejak itu, sekolah yang berada di Desa Pintas, Kecamatan Pinoh Selatan ini memacu diri. Hasilnya, juara 1 Lomba Sekolah Kesehatan (LSS) tingkat provinsi Kalimantan Barat tahun 2017. Tentunya mewakili Kalbar diajang serupa tahun 2018. Sekolah model atau sekolah percontohan tingkat provinsi berturut tahun 2018 dan tahun 2019. Bahkan, Kepala Sekolah ini, M. Firman, SPd menjadi narasumber sekolah model tingkat provinsi dan Best practices ESD tingkat provinsi. Lebih luar biasa lagi, usai ikut pertemuan world environmental Education Congress tahun 2019 di Thailand yang juga difasilitasi WWF Indonesia sepak terjang Firman makin menjadi-jadi. Dia berinisiatif mengadakan pelatihan pembelajaran menggunakan video untuk guru-guru se Kalbar tahun 2020. Tahun sama juga mengadakan  pelatihan pembuatan video tingkat Kalbar. Tentunya melalui room zoom, sebab Covid 19.

Atas semangat luar biasa yang ditunjukan Firman sehingga dia didaulat menjadi Koordinator Forum Pembangunan Berkelanjutan (FPB) Kabupaten Melawi. Forum ini terbentuk sesuai workshop Membangun Forum Education for Sustainable Development tahun 2018 yang digelar SuaR Institute yang didukung penuh oleh WWF Indonesia. Peserta yang hadir bukan hanya peserta dari Sekolah, tetapi dari organisasi kepemudaan, organisasi adat dan organisasi sipil lainnya. Seperti biasa, diakhir kegiatan peserta dibekali dengan work plan yang bisa dilaksanakan di tempat masing-masing.

Update terkini, di FPB bercokol, SMPN 1 Menukung, SMPN 1 Pinoh Selatan, SMPN 3 Nanga Pinoh, SMPN 1 Belimbing, SMA Negeri Pinoh Utara dan SDN 21 Sebaju. Mereka ini mengelola sekolah yang berorientasi pada Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan.

Anggota forum lainnya, Komunitas Peduli Lingkungan Terpadu (Komplit) yang bekerjasama dengan Pesantran Nahdatul Watan mendorong pesantren berbasis lingkungan. Komunitas Benih mengelola lahan pertanian, peternakan dan perikanan berkelanjutan. Begitu pula MDN community  yang mengelola lahan berkelanjutan. Sedangkan Komunitas Pencinta Alam (KPA) Kapuak, KPA Ciwanandri dan Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (IMPA) STKIP Melawi fokus pada membina pemuda untuk cinta alam. Organisasi adat Bekaban mengelola ternak dan hortikultura berkelanjutan. Organisasi adat Pasak Sebaju mengelola hutan adat. Organisasi adat Pasak Kebebu mengelola kawasan buah-buahan lokal warisan nenek moyang mereka yang dinamakan, Kelokak Kebubu.

Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Melawi, Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan (DP3) Kabupaten Melawi dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Melawi menjalankan tugas dan fungsi maisng-masing yang didorong berorintasi berkelanjutan.

Masuknya instansi pemerintah merupakan pengembangan, awal terbentuk belum ada instansi pemerintah. Setelah dikomunikasikan ide pembangunan berkelanjutan instansi pemerintah ini bersedia bergabung. Bahkan, ada perwakilan menjadi peserta kegiatan SuaR Institute-WWF Indonesia. Misalnya, kegiatan pelatihan pembuatan Film Dokumenter pematerinya dari Yayasan Sekolah Alam  Digital (YSAD). Dinas DP3 Kabupaten Melawi, DLH Kabupaten Melawi dan KPH Wilayah Melawi mengutus perwakilan. Di masa mendatang, keanggotaan forum akan terus dikembangkan, sebab tidak ada syarat khusus untuk masuk forum, cukup bisa menerima ide pembangunan berkelanjutan.

Selain memiliki group WhatsApp, Forum ini juga mengagendakan pertemuan setiap bulannya. Pertemuan tidak formal tersebut ajang berbagi pengalaman yang dilakukan di lembaga masing-masing. Seraya mendapatkan masukan dari yang lain.

Sejak terbentuk FPB, melalui program kerjasama SuaR Institute dan WWF Indonesia selalu mendorong lembaga anggota untuk berkontribusi terhadap pembangunan desa. Melalui Workshop Membangun Forum Education for Sustainable Development dengan mendatangkan pemateri dari Lembaga Gemawan, Muhammad Isa di tahun 2018. Lembaga gemawan salah satu Non-Government Organization (NGO) Kalbar yang fokus terhadap pendampingan desa. Materi yang disampaikan waktu itu pun terkait dengan pembangunan desa dan Sustainable Development Goals (SDGs). Peningkatan kapasitas anggota FPB tahun 2019 berupa Workshop SDGs  untuk Sustainable Village yang difasilitasi oleh Lembaga Muliantara, Mochamad Saleh. Bahkan tahun 2020 akan digelar Sustainable Livelihood Approach (SLA) untuk Sustainable Village.

Peningkatan kapasitas FPB yang fokus pada Sustainable Village ini diharapkan works plan lembaga-lembaga anggota bisa ke desa-desa domisili atau mencari desa khusus untuk didampingin. Selain untuk FPB, Sustainable Village juga fokus SuaR Institute dengan dukungan WWF Indonesia, yakni di Dusun Sebaju, Desa Nanga Kebebu. Tahun 2019 silam, telah dilakukan pemetaan dan pendataan potensi sumber daya alam dan manusia di Dusun Sebaju. Termasuk pula sudah mendorong rencana strategis (Renstra) Lembaga Pasak Sebaju dan atau Dusun Sebaju. Di Dusun Sebaju sendiri, ada struktur desa yang dipimpin Kepala Dusun, ada juga struktur Lembaga Adat, yakni Lembaga Pasak Sebaju, diketuai oleh Labai. Antara Lembaga Pasak Sebaju dan Dusun sangat bersinegis. Sebab, kepengurusan orang yang sama. Kecuali Labai dan kadus yang berbeda orang.

Pendekatan Menyeluruh Di Sebaju

Kekayaan alam Sebaju sangat luar biasa. Memiliki Sungai Kebebu dan Sungai Sebaju dengan berbagai jenis ikan air tawar. Hutan adat Rasau Sebaju dengan kekayaan biodiversity rawa gambut. Hasil pemetaan tahun 2019 oleh Suar Institute, lahan karet 665,88 Ha, Pinus seluas 370,Ha. Kabun sawit swadata 90,12 Ha. Lahan sawah seluas 99,61 Ha. Sawit pengusaha lokal Nanga Pinoh seluas 267, 14 Ha. Hutan Rasau Sebaju dengan 200 Ha, Rasau Gamin seluas 10,73 Ha,  tanah  Tengkawang dengan luasan 16,91 Ha dan luasan selebihnya adalah semak belukar.

Potensi yang luar biasa tersebut mestinya dikelola dengan prinsip keseimangan antara sosial, ekonomi dan ekologi. SuaR Institute bekerjasama dengan WWF Indonesia mendorong Sustainable Village di Dusun Sebaju dengan meminjam senjata ampuh ESD, yakni pendekatan menyeluruh atau whole approach. Komponen Kebijakan, Pembelajaran, Keaktifan anggota atau warga, Terlibatan pihak luar, Penataan lingkungan dan Monev dipakai untuk mencapai tujuan tersebut.


1. Pendekatan Menyeluruh: Kebijakan

Sentuhan SuaR Institute di Dusun Sebaju sudah sejak tahun 2009, lebih inten  sejak tahun 2013 dengan mendorong masyarakat adat untuk mengelola kawasan adat. Di tahun 2019, Dusun Sebaju diakui sebagai Masyarakat Hukum Adat (MHA) Adat oleh Pemerintah Kabupaten Melawi melalui Keputusan Bupati Melawi Nomor 660/171 tahun 2019 tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat Komunitas Dusun Sebaju (Dayak Katab Kebahan) Desa Nanga Kebebu Kecamatan Nanga Pinoh Kabupaten Melawi. Di tataran desa, sudah terbit peraturan desa No 2 Tahun 2015 Tentang  Penetapan perlindungan Serta Pengelolaan Kawasan Adat Desa Nanga Kebebu. Malah, RPJMDes 2014-2019 kepentingan Dusun Sebaju yang mengelola kawasan adat juga dimasukan.

Dalam konteks Sustainable village, SuaR Institute akan memasukan RPJMDes 2020-2026 Desa Nanga Kebebu dan Rencana Kerja Pembangunan  (RKP) tahunan. Tentuya pasca Pilkades 28 Agustus 2020. Jelas, melalui kekuatan BPD Des Nanga Kebebu yang berasal dari Dusun Sebaju, Dusun Sebaju, Lembaga Pasak Sebaju dan Masyarakat Dusun Sebaju. Mereka ini yang akan menjadi ujung tombak memperjuangkan agar Sustainable Village Sebaju masuk dalam perencanaan desa. Yang mengacu pada hasil pendataa dan pemetaan  sumber daya alam dan manusia serta Renstra Sebaju yang telah dibuat tahun 2019.

2. Pendekatan: Komponen Keterlibatan Pihak Luar

Dalam FPB, komunikasi intensif terkait dengan Sustainable Village Sebaju berjalan, terutama antara SuaR Institute dengan DLH Melawi, DP3 Melawi, KPH Wilayah Melawi dan WWF Indonesia Program Kalimantan Barat.

Hasilnya, tahun 2019, DLH Melawi membuat program reboisasi kawasan yang berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) atau kawasan putih di Sebaju. Sebanyak 15 hektar lahan yang terbakar tahun 2018 ditanami dengan karet dan jengkol. Suar Institute mendorong Lembaga Pasak Sebaju dan Dusun Sebaju agar lahan tersebut dikelola untuk dusun. Hasil panen di masa mendatang agar disisihkan untuk kepentingan masyarakat Dusun Sebaju. Tahapan awal hal itu dijalankan dengan bergotong royong merawat lahan 15 hektar tersebut. Harapnya, hal ini menjadi komomitmen bersama sehingga menghasilkan.

DP3  Melawi sedang membangun 22 Hektar sawah di dusun Sebaju. Saat ini sedang dibuka lahan, dibangun irigasi, jalan produksi dan embung sumber air. Ditargetkan pembangunan selesai dengan fasilitas pertanian lengkap tahun 2021. Bahkan Kepala DP3 Kabupaten Melawi mewacanakan kawasan sawah tersebut sebagai objek wisata.

KPH Wilayah Melawi sendiri berperan dalam memastikan Pinus seluas kurang lebih 370 Hektar di wilayah Dusun Sebaju milik PT Inhutani bermanfaat bagi mayarakat Sebaju. Selain itu pula, mereka juga sering memesan madu alam yang berasal dari Dusun Sebaju. Termasuk mempromosikan sirup asam marah produksi Dusun Sebaju.

Di dusun Sebaju ada juga program WWF Indonesia program Kalimantan Barat berupa pendampingan petani sawit swadaya. Cakupan Desa Nanga Kebebu dan Semadin Lengkong. Dikarenakan Sebaju salah satu dusun di Desa Nanga Kebebu, maka 17 warga sebaju yang menanam sawit secara swadaya didampingi oleh WWF Indonesia program Kalbar.

Sedangkan SMPN 3 Nanga Pinoh dan KPA Kapuak menjadikan hutan adat Rasau Sebaju dan Hutan Pinus sebagai wahana untuk pendidikan siswa dan anggota. Otomastis dengan semaraknya media sosial ini mereka akan menjadi pihak yang mempromosikan.

Lembaga Adat Pasak Kebebu yang memiliki ikatan keluarga dengan pengurus Lembaga Adat Pasak Sebaju selalu mendorong agar untuk mengelola kekayaan alam secara lestari. Bahkan, ketua Kelokak Kebebu, M. Yusli juga mantan Kades Nanga Kebebu yang merupakan orang yang mendukung awal-awal pengelolaan wilayah adat juga selalu mendorong agar pengurus Pasak Sebaju mengelola kekayaan alam secara lestari. Selain memotivasi Dusun Sebaju, Yusli juga termotivasi dengan kondisi sebaju hari ini yang memiliki hutan adat, sehingga dia bersama warga Dusun Kebebu berencana akan melestarikan kawasan kebun buah lokal.

3. Pendekatan Menyeluruh: Pembelajaran

Kunci penting dalam pendampingan yang dilakukan SuaR Institute yang didukung oleh WWF Indonesia sejak tahun 2011 sampai 2020 dan seterusnya adalah peningkatan kapasitas. Melalui workshop, pelatihan, seminar dan Focus Group Discussion (FGD). Peningkatan kapasitas pengurus lembaga anggota FPB yang didalamnya ada lembaga adat Pasak Sebaju merupakan sarana pembelajaran. Setiap kali peningkatan kapasitas, pengurus lembaga Pasak Sebaju selalu diminta hadir satu atau dua orang sebagai perwakilan. Perwakilan ini menyambung proses pembelajaran ke pengurus lainnya.

Pembelajaran juga terjadi antara lembaga anggota FPB dengan pertemuan yang diagendakan setiap bulan. Menggali metode, memperlihatkan contoh, praktik-praktik baik dalam project plan yang dilakukan menjadi bahan diskusi.

4. Pendekatan Menyeluruh: Keterlibatan Masyarakat Kampung

Dalam mendorong Sustainable Village di Sebaju, baik program yang dijalankan SuaR Institute atau dari instansi selalu melibatkan masyarakat Dusun Sebaju. Kegiatan pembuatan sawah oleh DP3 Melawi  dan kebun karet-jengkol DLH Melawi  melibatkan seluruh masyarakat.

Saat melakukan Pendataan, pemetaan kawasan wilayah adat Sebaju dan menyusun Rencana Strategis (Renstra) pelibatan masyarakat dusun sebaju diutamakan. Dalam merancang Rentra Dusun Sebaju, Suar Institute mendorog agar gotong royong menjadi senjata untuk mencapai apa yang telah dirancang tersebut. Memang gotong royong dalam berladang sudah menjadi bagian kehidupan atau kearipan lokal warga Sebaju. Hanya saja belakangan ini, gotong royong dalam istilah Sebaju dinamakan betalau mulai tergerus, tanda-tanda akan ditinggalkan mulai tanpa, sehingga saat merancang Renstra hal itu diingatkan untuk terus dijalankan.

5. Pendekatan Menyeluruh: Lingkungan

Sebagai Masyarakat Hukum Adat (MHA) Sebaju yang mengelola hutan adat, tentunya soal lingkungan menjadi fokus utama. Komitmen untuk menjaga HUtan adat seluas 200 hektar merupakan hal yang luar biasa di tingkat Melawi. Namun, ancaman pembukan lahan atas nama pembangunan perkebunan selalu saja menjadi ancaman bagi hutan adat. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan harus terus menerus ditanamankan di kalangan Sebaju, melalui Sustainable Village ini.

6. Pendekatan Menyeluruh: Monitoring dan Evaluasi

Monitoring dan Evaluasi Sustainable Village Sebaju akan dilakukan setiap tahun dengan alat ukur data hasil pendataan dan pemataan sumber daya alam dan manusia atau data sosial budaya dan ekologi serta Renstra yang telah dibuat tahun 2019 lalu. Data-data tersebut sebagai baseline yang setiap tahun diukur apakah ada peningkatan atau penurunan kualitas serta kuantitasnya. Selain itu, melalui FPB wadah monitoring dan evaluasi baru pertemuan bulanan FPB. Ditambah dengan antara mitra seperti DP3 Melawi, DLH Melawi KPH Wilayah Melawi dan Lembaga Adat Pasak Sebaju dengan pertemuan tidak formal, menanyakan perkembangan kegiatan.

Mendorong kerja bersama di Sebaju, SuaR Institute mencobe mendekatkan kepentingan lembaga-lembaga dan atau instansi dengan kebutuhan di Sebaju. Catatan utama yang disampaikan adalah pembangunan berkelanjutan. Di sisi warga Sebaju sendiri, SuaR Institute mendorong agar mereka terbuka, komitmen untuk belajar dan bekerja serius.

Kemudian, SuaR Institute menyakinkan semua pihak bahwa Sebaju sebagai Pilot Project Sustainable Village di Kabupaten Melawi yang dikerjakan bersama-sama para pihak. Sebagai wadah belajar anggota FPB agar bisa menciptaan kampong-kampung berkelanjutan di Melawi. Dampaknya, pembangunan di Kabupaten Melawi berorintasi pada pembengunan berkelanjutan.